Jumat, 27 Maret 2015

ASURANSI JIWA DAN KESEHATAN ITU PENTING

Ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan saat membuat perencanaan keuangan keluarga, yaitu anggaran dana untuk kepemilikan asuransi. Seorang kepala keluarga setidaknya bisa memberikan perlindungan kepada anggota keluarga lainnya, salah satu contohnya seperti bencana alam yang belakangan sering terjadi. Tetapi fakta ini justru kurang dianggap penting.

Tanpa sadar, kita seringkali mendahulukan untuk mengasuransikan mobil, motor, atau rumah kita terlebih dahulu. Alasannya jika kita kehilangan kendaraan, bisa segera diganti dengan yang baru. Sedangkan jiwa dan kesehatan justru dianggap tidak perlu. Lalu bagaimana kalau hilang

Ayo Sadar Berasuransi
Mulai Sekarang Masih banyak alasan logis lainnya yang menjelaskan kenapa asuransi jiwa dan kesehatan itu penting, simak saja beberapa penjelasan pentingnya memiliki asuransi jiwa dan kesehatan berikut ini:

Musibah Datangnya Tak Terduga

Musibah datang kepada siapa saja, bahkan mereka yang masih muda dan sehat. Asuransi melindungi nasabahnya dari musibah seperti kecelakaan, penyakit berat yang bisa menyebabkan masalah keuangan akibat pencari nafkah tak mampu lagi bekerja menghidupi keluarga.

Biaya Kesehatan Terus Meningkat

Menurut Global Medical Trends Report dari Towers Watson, rata-rata biaya pengobatan di Indonesia naik hingga 13,55 persen per tahun. Padahal rata-rata pendapatan masyarakat hanya naik rata-rata pendapatan masyarakatnya hanya naik 1,2 persen per tahun. Dengan kata lain, kenaikan biaya kesehatan tidak sebanding dengan kenaikan gaji karyawan.

Kematian Adalah Hal Yang Pasti

Kematian adalah hal yang tak bisa dihindari. Hanya waktunya saja yang tidak bisa diperkirakan manusia. Bila penafkah keluarga meninggal dunia secara tiba-tiba, asuransi melindungi keluarga dari masalah keuangan akibat hilangnya pemasukan keluarga.

Mungkin Anda merasa bahwa saat ini Anda masih muda dan sehat dan belum membutuhkan asuransi. Atau mungkin Anda merasa belum memerlukan asuransi jiwa karena belum memiliki anak walau sudah menikah? Padahal, semakin muda Anda memiliki asuransi, maka premi asuransi yang perlu Anda bayar juga akan semakin ringan.

Beberapa orang mungkin merasa bahwa premi asuransi terasa seperti ‘membuang uang’, karena manfaatnya tidak langsung terasa. Tapi yang Anda dapatkan dari asuransi adalah perlindungan dan rasa aman. Cepat atau lambat, Anda akan merasakan manfaatnya. Sumber: republika.co.id fbfs.com health.usnews.com busines

Minggu, 22 Maret 2015

MEMAHAMI RESIKO

RISIKO DALAM REKSA DANA Sementara itu, tentunya di dalam hidup ini selalu ada risiko yang harus Anda hadapi. Begitu pula dalam berinvestasi di reksa dana. Risiko-risiko yang ada dalam berinvestasi di Reksa Dana adalah: 1. Risiko Berkurangnya Jumlah Unit Penyertaan Anda Risiko ini merupakan risiko utama dalam berinvestasi di Reksa Dana. Berkurangnya jumlah Unit Penyertaan Anda pada sebuah Reksa Dana terjadi karena adanya fluktuasi dari harga aset-aset pada reksa dana tersebut. Untuk efek saham, fluktuasi harga terjadi sesuai dengan mekanisme pasar yang terjadi di bursa efeknya. Untuk efek utang, harganya cenderung naik pada saat tingkat bunga turun, dan sebaliknya, harganya akan cenderung turun pada saat tingkat bunga naik. Untuk instrumen pasar uang, fluktuasinya mengikuti tingkat suku bunga yang ada. Selain itu, kondisi ekonomi dan politik juga dapat menyebabkan terjadinya fluktuasi harga. Semua kebijakan politik dan hukum yang berkaitan dengan usaha dapat mempengaruhi harga suatu saham. Contohnya, kenaikan pajak kendaraan yang tinggi akan mengakibatkan turunnya penjualan mobil sehingga keuntungan perusahaan turun. Hal ini akan mengakibatkan harga saham perusahaan mobil itu mengalami penurunan. 2. Risiko Kredit Risiko kredit adalah risiko yang timbul pada efek utang dan instrumen pasar uang karena penerbit utang-utang tersebut tidak mampu untuk memenuhi kewajibannya dalam membayar utangnya, atau yang disebut dengan wanprestasi. Hal ini tentunya akan mempengaruhi aset reksa dana sehingga hasil investasi Anda akan berkurang. 3. Risiko Likuiditas Risiko likuiditas adalah risiko dimana manajer investasi tidak dapat dengan segera melunasi transaksi penjualan kembali unit penyertaan reksa dana Anda. Untuk mengurangi risiko itu, BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal) telah mengatur bahwa manajer investasi harus melunasi seluruh transaksi penjualan kembali paling lambat 7 hari bursa dari transaksi Anda. Oleh karena itu, ingatlah selalu untuk menghitung mundur waktu proses pencairan Anda agar uang Anda dapat cair tepat pada waktunya. Akan tetapi, dalam kondisi luar biasa (force majeure) atau kejadian-kejadian di luar kekuasaan manajer Investasi, baik yang dapat maupun tidak dapat diperkirakan sebelumnya, proses transaksi penjualan kembali dapat dihentikan untuk sementara.

Minggu, 15 Maret 2015

DIVERSIFIKASI

Setelah memahami cara kerja berbagai instrumen investasi, selanjutnya Anda harus belajar juga mengenai diversifikasi. Hal Ini erat kaitannya dengan pepatah don’t put all your eggs in one basket.

Diversifikasi dapat diartikan sebagai proses mengurangi risiko investasi dengan melakukan investasi pada beberapa instrumen yang berbeda. Mari kita ambil contoh, katakanlah saat ini portfolio investasi Anda terdiri dari reksadana saham, obligasi pemerintah tenor tiga tahun, dan kepemilikan di salah satu franchise minimarket. Ketika kondisi normal (pasar modal tidak crash), semua investasi Anda berkembang dengan baik.

Setelah menghitung-hitung ternyata hasil investasi yang Anda peroleh jauh lebih besar dari minimarket. Kebetulan lokasi outlet yang Anda pilih tepat, sehingga dalam tiga tahun modal Anda sudah break event point (BEP). Anda pun tergoda untuk membuka outlet kedua.

Kebetulan Anda mendapat harga penawaran spesial dari developer yang sedang membangun ruko di depan komplek sebuah perumahan. Anda tidak memiliki dana cash dan memutuskan menjual seluruh obligasi yang dimiliki. Anda melakukan pembayaran kepada developer, tetapi ternyata developer mengalami masalah yang menyebabkan proyek pembangunan ruko macet. Uang Anda nyangkut.
Dana yang seharusnya bisa berkembang di instrumen obligasi sekarang tidak jelas bagaimana kelanjutannya. Alih-alih mendapat kupon hasil investasi, Anda justru kehilangan seluruh uang Anda.

Pada awalnya langkah Anda sudah tepat yaitu membagi investasi Anda di beberapa instrumen. Namun, Anda tidak disiplin dengan alokasi investasi yang telah Anda rancang, sehingga buntung lah yang didapat.

Proses alokasi investasi harus mempertimbangkan dua hal yaitu risk tolerance dan time horizon. Mari kita bahas risk tolerance yakni sejauh mana kemampuan dan keberanian Anda untuk kehilangan sebagian atau seluruh uang dalam proses investasi. Hal ini erat kaitannya dengan profil Anda sebagai investor.

Secara umum ada tiga tipe investor yaitu :

pertama, risk taker investor.

Tipe investor ini berani mengambil risiko kehilangan seluruh uangnya untuk mendapat hasil yang lebih besar. Pedoman high risk high return sudah mendarah daging kepadanya. Biasanya tipe risk taker juga sudah memiliki pemahaman mendalam berikut pengalaman di masing-masing instrumen investasi, sehingga dia bernyali tinggi untuk terjun pada investasi berisiko tinggi.

kedua, risk moderate investor.

Tipe ini terletak di tengah-tengah. Dia punya pemahaman cukup terhadap instrumen investasi, tetapi tidak bernyali cukup tinggi untuk kehilangan seluruh uangnya. Toleransinya adalah kehilangan sebagian (kecil) saja dari uang yang diinvestasikan.

ketiga, risk averter investor.

Investor ini sama sekali tidak ingin kehilangan uang dalam proses berinvestasi. Dia adalah tipe investor yang konservatif, sehingga investasi di pasar modal yang cukup berisiko mungkin tidak terlintas sama sekali di benaknya.

Hal kedua yang menjadi pertimbangan Anda dalam melakukan diversifikasi adalah time horizon yaitu kapan Anda akan menggunakan dana hasil investasi. Hal ini berkaitan erat dengan tujuan investasi Anda, misalnya, berinvestasi untuk dana pensiun 25 tahun lagi, maka Anda lebih bisa bertoleransi terhadap instrumen investasi yang high risk (saham, reksadana saham) karena dana masih akan lama digunakan. Jika Anda membutuhkan dana hasil investasi dalam jangka waktu kurang dari tiga tahun, berinvestasi di pasar modal sebaiknya Anda hindari.

Pedoman diversifikasi Diversifikasi investasi harus dilakukan dalam dua hal yaitu diversifikasi di antara pilihan instrumen investasi dan diversifikasi atas pilihan instrumen investasi itu sendiri. Untuk yang pertama, diversifikasi di antara pilihan instrumen investasi ini berkaitan erat dengan alokasi investasi. Misalnya untuk investasi dengan time horizon tiga hingga empat tahun Anda dapat memilih untuk berinvestasi di ORI, reksadana pendapatan tetap dan (atau) reksadana campuran tipe konservatif.

Alokasinya adalah sesuai dengan selera Anda sendiri dan kondisi yang ada. Sebagai contoh, dana yang Anda butuhkan empat tahun lagi sebesar Rp400 juta. Pada saat ini, Anda memiliki dana kas Rp150 juta. Maka Anda dapat menempatkan dana yang sudah ada ini di ORI dan sisanya Anda ‘cicil’ dengan setoran setiap bulan ke reksadana pendapatan tetap.

Selanjutnya yang kedua, diversifikasi atas pilihan instrumen investasi itu sendiri, misalnya, Anda sedang berinvestasi untuk dana kuliah si kecil dengan time horizon 15 tahun. Pilihan Anda jatuh di reksadana saham. Anda telah melakukan riset kecil-kecilan terhadap performa produk reksadana saham yang dikeluarkan beberapa manajer investasi. Hasil riset Anda mengerucut di tiga pilihan produk dari tiga MI yang berbeda. Anda tidak perlu menjatuhkan pilihan hanya pada satu produk, silahkan berinvestasi pada minimal dua produk dari dua MI yang berbeda.

Jika hitungan Anda adalah harus berinvestasi sebesar Rp2 juta per bulan dengan target return 17% per tahun, maka Anda dapat mengalokasikan investasi bulanan Anda Rp1 juta untuk produk dari MI A dan Rp1 juta untuk produk dari MI B. Ada pula diversifikasi berdasarkan sektor industri. Hal ini sangat familiar bagi mereka yang sudah berpengalaman investasi di pasar modal selama bertahun-tahun.

Namun, Anda yang masih dalam taraf belajar pun dapat melakukan diversifikasi dengan menggunakan reksadana saham sektoral. Pada saat ini sudah banyak MI yang mengeluarkan produk seperti ini. Jadi, Anda akan dengan mudah menemukan reksadana saham yang portfolionya berisi hanya saham perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, consumer goods, infrastruktur, dan lain sebagainya. Performanya jelas berbeda-beda. Bisa jadi pada tahun kemarin yang sedang bersinar adalah saham properti, sedangkan tahun ini bisa jadi yang kinerjanya menggembirakan adalah saham perusahaan infrastruktur. Setelah Anda melakukan diversifikasi investasi, maka proses yang penting selanjutnya adalah selalu pantau investasi Anda.

Jika Anda berinvestasi untuk jangka panjang sebaiknya lakukan evaluasi minimal setahun sekali untuk memantau kinerja investasi Anda. Jika Anda berinvestasi untuk jangka waktu yang lebih pendek, lima tahun misalnya, sebaiknya pantau investasi Anda setiap tiga hingga enam bulan. Selain itu, minimal setahun sebelum dana akan digunakan silahkan pindahkan dana Anda ke instrumen yang low risk karena Anda tidak pernah tahu kapan akan terjadi market crash yang bisa menyebabkan nilai investasi turun drastis.
Penulis William Henley

Kamis, 12 Maret 2015

PASAR MODAL

Senjata Melawan Inflasi

Kamis, 12 Maret 2015
Menabung tidak bisa membuat orang menjadi kaya. Ketika uang itu disimpan di tabungan dan diakumulasi di masa depan, kebutuhan yang diinginkan senilai yang diperkirakan di awal menabung akan jauh lebih tinggi nilainya.

Artinya, uang di tabungan akan menggerus kemampuan atau daya beli seseorang. Apa penyebabnya? Jawabannya adalah inflasi.

Si inflasi inilah yang menyebabkan orang selalu mengatakan biaya hidup terus meningkat.

Coba bayangkan, 10 tahun lalu harga rumah di perumahan pinggiran ibu kota bisa terbeli di kisaran harga Rp 150 juta smapai Rp 200 juta. Tetapi saat ini, rumah di lokasi yang sama sudah meningkat menjadi Rp 500 jutaan.

Peningkatan harga rumah setinggi itu disebabkan rata-rata inflasi atau kenaikan harga properti sepanjang 10 tahun sebesar 8,5 persen. Sementara kenaikan harga rumah di tengah kota, di kawasan premium, bisa lebih tinggi lagi.

Bagaimana dengan kenaikan biaya pendidikan? Ternyata angka inflasi biaya sekolah rata-rata per tahun mencapai 15 persen. Tidak heran bila uang pangkal sekolah-sekolah premium saat ini untuk masuk sekolah dasar saja, misalnya bisa mencapai Rp 20 juta.

Bila seorang ayah menabung untuk uang pangkal anaknya yang baru lahir saat ini misalnya, ia berpikir cukup dengan Rp 3,3 juta per tahun, di tahun keenam ia berhasil mengumpulkan Rp 20 juta. Apa yang terjadi, di tahun keenam, saat si buah hati siap masuk ke sekolah dasar, uang pangkal yang enam tahun lalu masih Rp 20 juta, melonjak menjadi sekitar Rp 50 juta. Si ayah tidak lagi sanggup menyekolahkan anaknya di sekolah idaman.

Benar menyimpan uang di bank ada bunga tabungan. Tetapi bunga bank paling tinggi hanya 3 persen sampai 4 persen saja. Jauh di bawah angka inflasi.

Nah, bagaimana agar nilai uang yang dimiliki saat ini tidak berkurang? Jawabannya adalah menginvestasikan uang di produk investasi yang menghasilkan keuntungan di atas inflasi. Atau paling tidak menyamai inflasi barang yang ingin dibeli di masa datang.

Apa saja produk investasi? Macam-macam. Emas merupakan salah satu produk investasi. Kenaikan harga emas per tahun bila dihitung selama 10 tahun sejak 2004-2014 rata-rata 15 persen.

Alternatif lain adalah berinvestasi di pasar modal. Ada banyak produk pasar modal. Saham misalnya, bila dihitung dari kenaikan rata-rata harga saham, dalam kurun waktu yang sama, selama sepuluh tahun, menghasilkan return atau keuntungan rata-rata 32,9 persen.

Bisa juga memilih obligasi ritel Indonesia (ORI) yang bisa memberi kupon atau bunga sekitar 6 persen. Apabila investor tidak terlalu memahami seluk-beluk berinvestasi saham secara langsung, reksa dana bisa dijadikan pilihan. Tetapi harus diingat, dalam berinvestasi ada rumus yang tak boleh dilupakan, yakni high risk, high return.

Semakin tinggi return, risikonya semakin tinggi pula. Untuk itu, investasi pada produk dengan return tinggi hanya disarankan untuk investasi dalam jangka waktu panjang, di atas lima tahun. Putu Anggreni/AB

Selasa, 10 Maret 2015

Bukti cinta kepada keluarga

setelah berkeluarga dan memiliki anak, bahwa asuransi adalah bukti cinta dan tanggung jawab kita kepada keluarga, pada anak – anak yang kita sayangi.

Saat musibah datang, keluarga yang paling kena dampaknya.
Mereka harus menghadapi beban yang tidak kecil, baik psikis maupun finansial. Asuransi membantu mengurangi beban tersebut.