Rabu, 08 April 2015

INVESTASI BODONG

3 Langkah Anti Investasi Bodong

Beberapa waktu belakangan ini kita mendengar adanya seorang public figure yang menjadi korban atas investasi yang dilakukannya.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukanlah hal baru di dunia investasi dalam negeri. Sebelumnya telah banyak kejadian serupa yang menimpa masyarakat, dimana masyarakat awam yang berinvestasi banyak yang menjadi korban penipuan berkedok investasi.

Ada 3 hal yang dapat dilakukan agar dapat terhindar dari investasi bodong.
1. Kenali dan pelajari produk investasi. Jangan mudah tergiur dengan return yang pasti dan iming-iming yang kurang rasional. Misal, Anda cukup diam di rumah dan dalam sebulan dana Anda PASTI mendapat keuntungan jutaan rupiah atau fixed return 5% perbulan. Iklan semacam itu perlu diwaspadai.

Investasi bukan produk simpanan seperti tabungan atau deposito yang bisa menjanjikan secara pasti imbal hasil yang akan di terima. Selalu ada resiko di dalam investasi, semakin tinggi imbal hasil yang akan diterima biasanya akan diikuti oleh risiko yang semakin tinggi pula.

2. Pastikan perusahaan investasi memiliki izin dan terdaftar di lembaga yang berwenang.
Perhatikan aspek legalitas pengelola investasi tersebut. Setiap pihak yang mengelola dana masyarakat pasti memiliki regulator yang bertugas mengawasi aspek legalitas manajemen tersebut. Mintalah prospektus dari produk investasi yang ditawarkan.

3. Cari tahu secara mendalam mungkin mengenai cara kerja produk investasi.
Transparansi sangat penting, sebagai investor kita harus dan berhak tahu kemana dana kita ditempatkan. Pastikan pihak pengelola investasi bisa menjelaskan dengan baik pertanyaan-pertanyaan tersebut. Apabila produk investasi tersebut dianggap mencurigakan ada baiknya jika segera dilaporkan ke pihak berwajib.

Investasi memiliki manfaat yang cukup baik untuk mencapai tujuan keuangan yang baik di masa depan. Jadi, tetaplah berinvestasi dengan bijak dan cerdas.
Sumber: DIM

Senin, 06 April 2015

PERSIAPKAN BEKAL MASA DEPAN DENGAN MENABUNG

Persiapkan Bekal Masa Depan dengan Menabung
apa yang akan
terjadi di masa depan memang tidak dapat kita ketahui dengan pasti. “Sesungguhnya (Dialah) Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dihasilkannya besok. Dan, tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqmān/31: 34.)

Namun demikian, kita diperintahkan untuk membuat perencanaan yang baik guna mengantisipasi apa yang akan terjadi. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia sajikan untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS al-Hasyr/59: 18.)

Menabung adalah salah satu bentuk perencanaan dan tindakan antisipatif terhadap kondisi yang tidak diharapkan di masa depan. Quran memberikan endorsementterhadap tindakan menabung melalui kisah Nabi Yusuf AS: “Yusuf berkata:‘Supaya kamu bercocok tanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.’”(QS Yūsuf/12: 47-48.)

Islam menganjurkan agar seseorang itu mempersiapkan bekal yang cukup bagi keluarganya sebelum ia meninggal dunia. Ini mengandung pesan implisit tentang urgensi menabung.
Nabi SAW bersabda kepada Sa`d ibn Abī Waqqāsh, إِنَّكَ إِنْ تَدَعُ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالةً يَتَكَفَّفُوْنَ النَّاسَ فِي أَيْدِيْهِمْ

“Sungguh, engkau meninggalkan ahli warismu dalam kondisi kaya itu lebih baik dibandingkan engkau meninggalkan mereka dalam kondisi miskin yang membutuhkan bantuan uluran tangan manusia.” (HR al-Bukhāridalam Shahīh-nya III/106/2591 dan Muslim dalam Shahīh-nya III/1250/1628.)

Menabung merupakan kutub yang berseberangan secara diametral sekaligus penyeimbang terhadap sedekah. Tidak dipungkiri bahwa menabung merupakan bagian dari tindakan menahan harta. Sedangkan, pada prinsipnya, tindakan menahan harta merupakan hal yang dikecam oleh agama, berbeda dengan sedekah yang agama menganjurkannya. Banyak sekali teks keagamaan yang berbicara mengenai hal tersebut, di antaranya adalah sabda Nabi SAW:
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَاِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “Tidak ada satu hari pun yang dilalui oleh seorang hamba melainka pada pagi harinya dua malaikat turu
kepadanya.
Salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang bersedekah.’ Sementara yang lainnya berkata: “Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang menahan hartanya.’” (HR al-Bukhāridalam Shahīh-nya II/522/1374 dan Muslim dalam Shahīh-nya II/700/1010.)

Dengan demikian, teks-teks keagamaan yang berbicara tentang masalah sedekah dan menabung—sebagaimana telah disebutkan sebagiannya di atas—harus didudukkan secara komprehensif dan proporsional. Sedekah secara berlebihan dan dengan tanpa skala prioritas juga tidak dianjurkan. Quran mengajarkan agar seseorang tidak kikir, dan demikian juga sebaliknya, Quran juga mengajarkan agar seseorang tidak terlalu pemurah. Allah SWT berfirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu pemurah), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS al-Isrā’/17: 29.)

Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan. Ini adalah prinsip universal (universal value) yang berlaku secara umum. Karena itu, seorang yang beriman diminta untuk mengambil posisi yang tepat dalam hal ini, yaitu berada di antara tindakan menabung dan sedekah. Ia menabung sebagai bentuk perencanaan terhadap masa depan dirinya dan keluarganya di satu sisi, namun ia juga bersedekah sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap lingkungan sosial di sisi yang lain. Tidak ada yang kontradiktif. Keduanya dapat dilakukan secara simultan. WaLlāhu a`lam bish shawāb.